Langkah Pertama Menuju Seribu Mimpi


Penulis : Rina 
 

  Ketika memikirkan tentang orang tua yang semakin menua, semua jabatan dan pencapaian yang telah diraih terasa kosong dan tidak berarti. Aku selalu berusaha untuk menerima dengan lapang dada di tengah banyaknya tuduhan yang kadang tidak akurat. Harapanku, semoga kelak ada di antara saudara-saudara yang dapat memenuhi harapan orang tua kami. Aku tidak berharap itu datang dariku, tetapi hingga saat ini, Tuhan terus menunjukkan kasih-Nya dengan memberikan banyak kesempatan untuk berkembang. Terkadang, ketika aku berpikir tentang apakah aku bisa menyelesaikan berbagai ajakan untuk berbakti dan tekanan dari luar yang membuat hatiku lemah, aku merasa tidak mampu untuk terus bersabar. Aku ingin mengakhiri semua ini di ranah hukum dan keadilan, tetapi di sisi lain, aku harus tetap fokus pada pencapaian serta harapan positif yang dititipkan kepada saya sejak kecil oleh orang tuaku.


  Aku juga memikirkan amanah dari kakak dan adik-adikku serta seluruh keluargaku yang selalu memberikan dukungan penuh dalam mengejar pendidikan. Ini membuatku harus menanggalkan perasaan yang semakin hari semakin membuatku bingung, apakah aku akan memiliki rumah untuk kembali yang dapat disebut rumah tangga, atau akan terus melayani tanpa batas dan kehilangan rasa cinta. Setiap orang pasti mendambakan rumah sendiri, tetapi dengan tekad yang kuat, aku memilih untuk tetap bersabar dengan keadaanku yang tidak sempurna dibandingkan orang lain. Dengan berbagai kekurangan yang ada, seharusnya aku berbeda dan memiliki keinginan yang kuat untuk meraih impian di masa depan. Impian itu selalu muncul dalam benakku.


  Akhirnya, aku harus memperbarui cara berpikirku hari ini. Aku harus melangkah lebih dulu, berharap di masa depan akan ada petunjuk dan jalan untuk mencapai harapan serta amanah yang sudah lama aku simpan dalam hati. Meskipun harus menghadapi banyak kritik dan mengalami saat-saat berair mata ketika tidak ingin menyimpan dendam atau membalas permasalahan yang tidak memberikan manfaat di dunia dan akhirat. Apapun yang terjadi di masa depan, semoga hati ini selalu rendah untuk menerima segala sesuatu, mengingat takdir telah ditentukan oleh Allah. Tugas kita hanya berusaha, dan hanya Tuhan yang layak mengabulkan doa kita.


  Terima kasih telah menjadi bagian dalam suka dan duka serta memberikan inspirasi dalam setiap langkah. Kepada ayah, ibu, kakak, dan adik yang tidak bisa kusebut satu per satu namanya, meskipun aku terkadang keras kepala, aku terus mengingat motivasi yang telah kalian berikan berkat kebersamaan kita. Kesabaran dan ketegasan dalam didikan kalian telah mengubah hidupku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Maafkan jika sebelumnya aku salah menganggap Muhammadiyah sebagai jalan yang tidak benar; aku keliru dan masih muda waktu itu. Kini, di puncak pencapaian gelar S1-ku, aku bersyukur telah mengenal Muhammadiyah dengan lebih dalam. Jika ada kesempatan untuk mengulang cerita, aku mungkin akan memilih untuk melanjutkan ceritaku di perjalanan Muhammadiyah dari semester pertama hingga seterusnya. Aku tidak pernah menyesali keputusan untuk mengenal Muhammadiyah. Aku yang sering merasa pesimistis akan pencapaian ini karena berbagai kekuranganku yang sering dikritik, namun hari ini aku menitikkan air mata penuh rasa syukur berada di lingkungan Muhammadiyah yang telah berperan penting dalam mengembangkan diriku. Kini, aku mulai memahami nilai kemanusiaan dan identitasku sebagai manusia. Semoga Muhammadiyah selalu menyebarkan kebaikan sepanjang waktu.

  Jika dalam waktu yang akan datang terdapat perubahan, setiap kader hendaknya ingat bahwa perasaan tidak nyaman yang membuat saya merasa tidak percaya diri dan menjauh disebabkan oleh kenyataan bahwa saya mengenal Muhammadiyah melalui pembelajaran dan tindakan nyata. Muhammadiyah itu beradab dan berilmu, saya merasa malu jika melihat seorang kader menunjukkan kedekatan di depan umum tanpa adanya ikatan yang sah. Berdasarkan pengetahuan saya, pada zaman Nabi Muhammad dan era Bung Karno, pria dan wanita sama-sama fokus pada kegiatan kemanusiaan tanpa harus memperlihatkan kedekatan di publik, apalagi ketika ikatan tersebut belum sah dan melanggar norma. Selain itu, kita mengkaji kisah Ahmad Dahlan dan Nyai Siti Walidah yang jarang menunjukkan kedekatan di hadapan publik. Apakah kita hanya perlu membaca dan mendalami sejarah tanpa meneladani yang telah diajarkan? Apa makna diciptakannya sejarah kepahlawanan jika pada akhirnya kita hanya berhenti pada pembacaan tanpa mencontoh? Apa artinya hukum dan Alquran jika tidak diterapkan dengan benar? Saya juga memperhatikan sejenak betapa Muhammadiyah seolah enggan untuk menjunjung tinggi integritas, baik itu dalam persahabatan maupun dalam ilmu pengetahuan.


  Saya menyadari bahwa Alquran sebenar-benar dapat dipahami ketika kita melepaskan segala kenikmatan dan berani mengambil resiko. Setelah menantikan dengan sabar dan merasa tak layak meraih impian di tanah air, akhirnya saya menyadari bahwa rezeki tidak selalu terletak di negara sendiri; mungkin ada peluang yang lebih luas ketika kita tulus dan tidak merasa iri kepada orang lain, maka rezeki pun bisa datang dari berbagai penjuru dunia. Saya yang dikenal pendiam namun menyimpan banyak pengalaman, tidak ingin membuat orang lain merasa iri, cukup saya simpan dan bagikan di tempat yang tepat. Seperti pepatah yang mengatakan, ilmu yang tidak diletakkan di tempat yang benar akan menjadi kabur dan berdebu, maka saya terus berusaha memahami makna tersebut. Saya paham bahwa setiap ilmu memiliki tempatnya, setiap perkataan itu berposisi, oleh karena itu kita sebagai manusia perlu menahan diri untuk berpikir terlebih dahulu sebelum mengucapkan hal yang baik. Berkat Muhammadiyah dan NU, negara ini terus berkembang dan memberikan dampak, semoga di kehidupan mendatang dapat menjadi lebih baik sehingga kita dapat menjadi pribadi yang lebih matang dalam menghadapi berbagai tantangan, memberikan dampak yang nyata dan bukan sekedar kata-kata, melainkan tindakan yang berkaliber dan berdampak jangka panjang.

  Tahun ini, 2025, banyak pengalaman yang telah saya lalui setelah menghadapi berbagai tantangan di kampus dan di organisasi. Namun, dengan keikhlasan dan ketahanan, saya bisa bergerak maju dan menjadi lebih baik meskipun sering kali saya gagal dan tidak lulus saat mengikuti berbagai ujian, baik itu pelatihan di Mamuju maupun ujian di BPMP dan SATPEL Majene. Saya juga telah mendaftar di beberapa perguruan tinggi dan mengikuti pelatihan bahasa Inggris di Pangkep, hingga akhirnya mendaftar di Jawa. Ketika masih kuliah, saya mencoba mendaftar program pertukaran mahasiswa PMM, tetapi tak kunjung berhasil. Saya merasa sangat kecewa dengan diri sendiri karena selalu gagal saat berusaha menambah ilmu pengetahuan.


  Hingga suatu saat, saya bertemu dengan beberapa bisnis dan mendapatkan informasi langsung dari platform IDP. Selama sekitar satu tahun, saya terus memantau aktivitas IDP dan bahkan mencari kantor mereka, tetapi hanya menemukan cabang. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk membuat akun setelah merasa frustrasi karena tidak lulus ujian di Sulawesi Barat beberapa kali. Setelah menyelesaikan penjilitan skripsi, saya kembali aktif memantau situs IDP melalui Google dan berani menghubungi salah satu lulusan IDP yang melanjutkan S2 di luar negeri. Tak disangka, mereka membalas pesan saya dan mengajak saya untuk ikut kursus bahasa Inggris serta ingin mendampingi saya dalam mendapatkan beasiswa luar negeri. Saya pun tersenyum lebar, berharap bisa mewujudkan impian saya lewat IDP dan menjadi peserta pertama dari Sulawesi Barat. Selain itu, saya juga ingin membantu mereka yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri agar Indonesia semakin berdampak tanpa batas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sinergi Keberagaman: Implementasi Surah Al-Hujurat dalam Memperkokoh Barisan.

Satu Tema Seribu Cahaya: Tadabur Ayat Melalui Pendekatan Indeksasi

Menulis Tanpa Batas: Mengasah Fleksibilitas Pena di Berbagai Komunitas.