Al-Qur'an Maps: Cara Cepat Mencari Petunjuk di Era Digital.
Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Afzalurrahman, pengamalan ajaran Al-Qur'an serta tuntunan dari para sahabat nabi merupakan inti dari penelitian tersebut. Al-Qur'an yang bersifat transformatif menjadi sumber pengetahuan ilmiah, dan kebenaran tidak dapat dibatasi hanya pada satu organisasi atau lembaga, karena Al-Qur'an mencakup segala ilmu yang berkaitan dengan kemanusiaan dan lainnya serta penerapannya yang sangat luas.
Indeks Al-Qur'an, yang disusun oleh pasangan suami istri ini, pertama kali diterbitkan pada tahun 1984. Indeks ini, yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka di Bandung, berasal dari permasalahan yang dihadapi Sukmadjaya yang berhubungan dengan berbagai pertanyaan mengenai hidup. Menurutnya, semua persoalan tersebut bisa dijawab melalui isi Al-Qur'an. Kesulitan inilah yang memunculkan gagasan untuk membuat buku indeks Al-Qur'an, dengan harapan bahwa indeks tersebut dapat memberikan solusi bagi masyarakat dalam memecahkan masalah hidup, terutama bagi mereka yang tidak menguasai bahasa Arab.
Pengumpulan dan penyusunan indeks ini merujuk pada Al-Qur'an serta terjemahannya yang diterbitkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia melalui PT. Bumi Restu pada tahun 1974, dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama dimulai dengan proses pengumpulan bahan indeks dari tahun 1980 hingga keberangkatan Sukmadjaya Asyari ke Prancis pada Maret 1982. Selanjutnya, tahap kedua dari penyusunannya dilanjutkan oleh Rosy Yusuf (istrinya) hingga selesai pada akhir 1983 di Bandung. Beberapa tahun kemudian, seorang pemuda bernama Alfazurrahman kembali menulis buku indeks Al-Qur'an secara ringkas dan jelas agar dapat menjadi panduan bagi generasi muda saat ini, sehingga pemuda NKRI mampu bertindak dengan pengetahuan yang luas. Di tahun 1980-an, proses kreatif dalam penulisan buku indeks Al-Qur'an tidak hanya berlangsung tetapi juga berkembang.
Meskipun tidak secepat kemajuan dalam penulisan tafsir, namun ini menunjukkan fenomena baru dalam penulisan dan penelitian terhadap Al-Qur'an. Buku-buku indeks yang diterbitkan di era kontemporer ini akan dianalisis dalam penelitian ini. Kemudian, Ahmad Syarif Hidayatullah melanjutkan penelitian ini pada tahun 2007 dengan judul INDEKS AL-QUR'AN DI INDONESIA (Studi Komparatif Buku-Buku Indeks Al-Qur'an di Indonesia 1984-2007). Pemahaman tentang Al-Qur'an harus bersifat organik, artinya pemahaman tersebut akan bertumbuh dan berkembang sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan.
Pemahaman seperti ini tidak akan merusak kesucian Al-Qur'an tetapi justru menciptakan dinamika yang diharapkan, karena umat Islam telah membangun kesadaran berdasarkan ajaran Al-Qur'an, wa tawashaw bil haq, wa tawashaw bish-shabr, yaitu tingkat yang paling mungkin untuk mendapatkan hidayah dari Allah (penulis Sukmadjaya Asyari dan Rosy Yusuf 2003). Untuk memahami bidang politik, hukum, KUHP, ilmu ekonomi, dan kesetaraan gender, dan lain sebagainya penting untuk memahami Al-Qur'an secara menyeluruh dan mendalam terlebih dahulu.

Komentar
Posting Komentar